Sultan Salahuddin Ayyubi (1137 - 1193 M)
Apabila bicara tentang perang salib maka banyak para ahli sejarah yang mengucapkan nama Sultan Salahuddin Ayyubi atau biasa disebut Saladin oleh bangsa eropa. Sultan Salahuddin Ayyubi adalah seorang Pejuang Muslim, dimana namanya tertanam dalam sejarah eropa dan sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih dan menghancurleburkan tentara salib yang merupakan para tentara gabungan dan pilihan dari seluruh benua Eropa.
Duniapun menyaksikan sikap patriotik dan heroik yang menyatu dengan sifat perikemanusian yang dimiliki oleh Sultan Salahuddin Ayyubi. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara Perang Salib ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya, para tentara Perang Salib Eropa di bawah pimpinan Richard The Lionheart dari Inggris dapat dipukul mundur. Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang, dahsyat, penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban jiwa ratusan ribu bahkan tak terhitung, di mana pasukan Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat Islam.
Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah. Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya, Kaisar Jerman, Perancis serta Richard The Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Salahuddin Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang berhasil menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk bermaksud menguasai tanah suci. Siapa sebenarnya Sultan Salahuddin Ayubbi ini!
Sultan Salahuddin Ayyubi atau oleh Tentara Nasrani Eropa biasa disebut Saladin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Nama Ayahnya Najamuddin al-Ayyubi cukup tersohor di negaranya. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga banyak memberikan andil besar dalam membentuk kepribadian Salahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Keduanya adalah pembantu terdekat Raja Syria Nuruddin Mahmud. Pamannya Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal dan komandan Angkatan Perang Syria yang telah berhasil memimpin serbuan dalam memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu dia meninggal dunia.
Sepeninggal Asaduddin Sherkoh, keponakannya Salahuddin Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak berapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah, adil dan bijaksana. Pada saat khalifah Fathimiyah berpulang ke rahmatullah, Salahuddin menjadi pengganti dan telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir. Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya (khususnya) Gumushtagin. Salahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Tetapi tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini, memberi angin kepada tentara Salib untuk menyerbu, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.
Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus yang diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan bersedia untuk menghancurkan kota itu bila tidak menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Salahuddin yang segera ke Damaskus dengan sejumlah pasukan yang kecil dan berhasil merebut kembali kota itu. Setelah berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki dan menduduki istana raja Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat tinggal di rumah orang tuanya. Para Umat Islam sangat kecewa akan tingkah laku Raja Muda Damaskus yaitu Malikus Saleh, mengajukan tuntutan kepada Salahuddin untuk memerintah daerah Damaskus. Tetapi Salahuddin hanya mau memerintah atas nama Raja Muda Malikus Saleh, Salah satu sikap yang tidak haus akan kekuasaan, dan Salahuddin pun baru mau memerintah Damaskus ketika Raja Muda Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi. Tak butuh waktu yang lama, kekuasaan Salahuddin pun telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.
Monumen Saladin Di Damascus
Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Salahuddin Ayyubi mengurung pasukan musuh yang kuat di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan Salahuddin Ayyubi tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki oleh Sultan Salahuddin Ayyubi dengan pertempuran yang singkat dan diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Salahuddin yang berhati mulia itu.
Setelah itu Sultan Salahuddin Ayyubi memfokuskan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan yang dipimpin Sultan Salahuddin Ayyubi dan menyerah pada tahun 1193. Satu lagi sikap penuh perikemanusiaan yang ditunjukkan Sultan Salahuddin Ayyubi, dimana Sultan Salahuddin Ayyubi tidak membalas para tentara salib dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam dibantai.
Namun sebaliknya, ketika Sultan Salahuddin Ayyubi merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi (Baca Data & Fakta) Sultan Salahuddin Ayyubi yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikan pula alat pengangkutan. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya.
Dari Jerusalem Sultan Salahuddin Ayyubi mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Salahuddin Ayyubi yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawannya. Sultan Salahuddin Ayyubi menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan Salahuddin Ayyubi pun memberi pengampunan pada pangeran Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.












0 komentar:
Post a Comment